Jakarta -
Aktivitas menggoreng nasi itu sudah diakrabi Suyoto
hampir dua tahun terakhir ini. Sejak itu, racikan bumbu dan penggorengan
panas hampir tak pernah absen dari kedua tangannya. Sepintas Suyoto
memang serupa dengan pedagang nasi goreng pinggir jalan lainnya. Hanya
satu yang beda: Suyoto tak berpikir dua kali memberi nasi goreng gratis
pada ibu hamil.
"Kita sebagai umat Islam harus banyak-banyak
beramal. Kalau orang kaya kan punya harta. Kalau saya orang susah, punya
nasi goreng ya beramal dengan nasi goreng. Saya senang kalau bisa
memberi pada ibu hamil," kata Suyoto.
Hal itu disampaikan pria kelahiran Semarang 16 Juni 1963
Bagi
dia memberi nasi goreng gratis pada ibu hamil yang makan di warung
tendanya adalah kebahagiaan tersendiri. Suyoto membayangkan, calon bayi
yang ada di perut ibu hamil turut memakan nasi goreng bikinannya. Karena
dilandasi niat tulus memberi, dia berharap kelak anak-anak yang
dilahirkan ibu hamil yang sempat mampir di warungnya tumbuh sebagai anak
yang baik, berbakti pada orang tua dan juga senang beramal pada sesama.
"Kalau
dalam sehari ada 15 ibu hamil yang makan di warung saya, akan tetap
saya beri gratis. Memang sudah niat saya memberi nasi goreng gratis pada
ibu hamil yang makan di tempat," tuturnya.
Tidak takut rugi?
"Saya tidak pernah merasa dirugikan dengan ini. Semakin banyak ibu hamil
yang makan di warung saya, saya merasa semakin banyak rezeki yang saya
dapat,"
Tidak setiap
hari selalu ada ibu hamil yang mampir ke warung nasi goreng Suyoto yang
berada di kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan ini. Tapi malam itu
ketika detikcom menyambangi warung Suyoto, kebetulan ada ibu hamil yang
sedang makan di sana.
"Yang dimakan Mbak, gratis," ujar istri Suyoto saat ibu hamil itu hendak membayar makanannya.
"Lho kenapa?" ucap perempuan berbadan dua itu dengan wajah bingung.
"Untuk ibu hamil memang gratis. Ini sudah kami tulis di sini," ucap istri Suyoto sambil menyodorkan daftar menu.
Di
bagian paling bawah daftar menu memang tertulis 'Khusus ibu hamil makan
gratis'. Melihat itu, sang ibu hamil pun mengangguk mengerti.
Suyoto
bersyukur nasi gorengnya bisa diterima masyarakat. Awalnya dia hanya
menjual nasi goreng biasa. Namun perlahan, dia mulai 'berkreasi' dengan
nasi goreng bikinannya. Ada nasi goreng teri, nasi goreng pete, nasi
goreng kambing, nasi goreng seafood dan sebagainya.
"Tambahan ati
ampela, ikan asin dan sebagainya ini juga masukan dari konsumen. Kata
mereka, kalau dasar nasi gorengnya sudah enak, mau ditambahi apa saja
tetap saja enak," lanjut ayah dua anak ini.
Dari nasi goreng,
Suyoto mampu membiayai pendidikan kedua anaknya. Anak sulungnya kuliah
kebidanan di Solo sedangkan anak bungsunya masih SMA. Bagi dia, mampu
membayar kuliah anaknya adalah suatu rezeki yang tak henti-hentinya dia
syukuri.
Sebelum membuka warung nasi goreng, Suyoto lama membuka
warung rokok kecil-kecilan. 7 Tahun dia mengelola warung rokoknya itu.
Sebelum menjalani aktivitas dagang, Suyoto dan istrinya sempat bekerja
di pabrik garmen. Bahkan Suyoto pernah menduduki posisi sebagai
supervisor. Sayang, pabrik tempat dia mencari makan gulung tikar.
"Sesuatu
itu selalu bermula dari yang kecil. Kalau mau berhasil harus mau usaha.
Semua itu tergantung orangnya. Kalau tekun, rajin dan disertai doa,
saya yakin pasti bisa berhasil," tutur Suyoto.
Dia berharap suatu
saat nanti bisa memiliki warung nasi goreng di bangunan permanen,
sehingga bisa lebih nyaman. Jika selama ini warung nasi gorengnya tak
punya nama, dalam waktu sebulan ke depan dia akan memberi nama warungnya
'Sadakur'. Dia baru sadar, identitas pun memegang peranan penting saat
membuka usaha.
"Sadakur itu artinya sabar dan bersyukur.
Keinginan saya lainnya adalah bisa buka cabang di tempat lain dan bisa
menjalankan rukun Islam ke-lima, naik haji," harapnya.
Bagi
Suyoto, mencari makan dengan berdagang adalah aktivitas yang
menyenangkan. Sebab dia bisa mengatur sendiri waktu kerjanya dan tidak
tergantung pada atasan. Bahkan jika mungkin, Suyoto ingin membuka
lapangan kerja bagi orang lain.
"Suatu hari nanti saya ingin bisa
menulis buku. Ingin membagi kisah saya dengan orang lain. Dan sampai
kapan pun selama saya jualan nasi goreng, saya akan tetap memberi gratis
untuk ibu hamil. Benar, rezeki itu tidak tertukar," ucap Suyoto.